Dari atas sadel motor yang berhenti "sedikit" di depan zebra cross pertigaan Prof. Dr. Moestopo - Karangmenjangan Surabaya, nampak juga beberapa orang yang melakukan hal yang sama. Mungkin maksud mereka pun tak jauh beda denganku; "hendak mempersingkat waktu perjalanan". Meski mungkin yang dimaksud dengan mempersingkat itu tidaklah signifikan sama sekali, sebab hanya beberapa saat saja. Nampak juga diantara para "penerabas" tersebut, seorang ayah yang mendudukkan anak lelakinya di depan dirinya.
Belum juga lampu lalu-lintas berubah hijau, sang ayah yang memperhatikan lalu-lintas dari arah Jalan Karangmenjangan nampak sepi, segera menarik gas motornya hendak melajukan sepeda motornya. Tak berselang lama, si anak langsung berucap,"Yah.. lampunya 'kan masih merah..".
"Aduh..", runtukku, jadi teringat sajaknya Gibran yang berjudul Children
Children
And a woman who held a babe against her bosom said, 'Speak to us of Children.'
And he said:
Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life's longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you, yet they belong not to you.
...
by : Kahlil Gibran
Ya..anak-anak kita bukanlah anak-anak kita..
Sebanyak apapun kita menjejali mereka dengan ide dan pikiran kita, namun mereka mempunyai pikiran sendiri. Mereka mampu mengolah berbagai informasi yang mereka dapatkan baik melalui pengajaran maupun pengalaman.
Di sekolah, mungkin para guru sudah mengajari si anak untuk berhenti ketika lampu lalu-lintas masih menyala merah, namun dengan mengalami sendiri bahwa ada orang-orang yang tidak mengabaikan aturan dengan menerobos lampu merah, dan mereka tidak mendapatkan "hukuman" apapun, mereka mungkin jadi berpikir, kalo' melanggar aturan itu tidak apa-apa (apalagi kalau bersama-sama :D). Pada akhirnya, kita telah mencetak generasi yang permisif terhadap pelanggaran yang ada.
Semoga asumsi saya yang terakhir itu tidak benar..